Monday, 31 October 2011

Amerika Serikat: Si Cewek Cantik yang Rese'

Gue paling ngga suka sama cewek cantik, yang tau dirinya cantik. Banyak dideketin cowok, tapi sok jual mahal. Iya sih, dia memang unggul dibandingin cewek-cewek lainnya, tapi kalo udah jual mahal, apalagi bertindak sesuka dia, itu minus banget. Apalagi kalo dia tipe yang suka tebar pesona di mana-mana, tapi begitu mau ‘diikat’ tiba-tiba kabur entah ke mana.
Gue juga ngga suka sama cowok playboy. Tau kan? Tipe yang mengumbar komitmen ke semua cewek (atau cowok, kalo orientasinya ke sesama jenis), semua cewek diturutin. Yang bikin gemes lagi, itu cowok udah playboy, kaya, tapi masih bocah. Jadi kelakuannya pun kadang masih ga jelas.
Dalam hukum internasional, ada dua negara yang kelakuannya mirip (kalo ngga bisa dibilang persis) kayak Si Cewek-Cantik-Rese' dan Si Cowok-Playboy-Ababil. Si Cewek adalah Amerika Serikat, dan Si Cowok adalah Indonesia. Tentunya hal ini harus dimasukkan ke suatu konteks tertentu. Dalam hal ini, konteksnya adalah keterikatan mereka dalam perjanjian internasional, yang dianalogikan dengan komitmen cewek-cowok.
Salah satu sumber hukum internasional adalah perjanjian internasional. Bentuk perjanjian internasional ini beragam. Ada yang antar dua negara (bilateral), ada yang dibentuk dalam satu wilayah (regional, misal: ASEAN), dan ada juga yang dilakukan oleh banyak negara dalam satu waktu tertentu (multilateral). Nama perjanjian internasional pun banyak. Ada konvensi, statuta, komunike, dllsb.
Nah, untuk mengikatkan diri ke perjanjian internasional, lo harus melakukan sesuatu yang namanya ratifikasi. Dengan lo melakukan ratifikasi, lo menyerahkan sebagian kedaulatan lo untuk topik yang diatur dalam perjanjian internasional itu. Sama aja kayak pacaran. Waktu lo jomblo, lo kan bebas-bebas aja mau ngapain juga. Ngga akan ada yang ngelarang. Begitu lo udah pacaran, lo ngga akan sebebas kayak waktu lo jomblo karena sebagian kebebasan lo udah lo lepas untuk berkompromi sama pacar lo. (Untuk para lelaki, gue tau perasaan kalian gimana :D)
Kenapa gue bisa bilang AS itu cewek rese"? Karena pada waktu perjanjian internasional ini dibuat, terutama dalam perjanjian multilateral, AS itu bacotnya minta ampun. Ngatur ini, ngatur itu. Setuju sama A, menolak klausula B, abstain sama ketentuan C. Banyak banget nuntutnya. Tapi begitu waktunya untuk ratifikasi, mereka ga ratifikasi. (masukkan kata makian favorit anda di sini). 
Dua contoh yang bisa gue kasih adalah waktu Konvensi Hukum Laut. AS banyak banget minta A B C, menolak rezim Negara Kepulauan, kasih masukan ini itu. Tapi mereka ga ratifikasi. Pas pembahasan Statuta Roma (perjanjian internasional yang melahirkan lembaga hukum internasional permanen pertama, International Criminal Court) pun sama aja. Mereka vokal banget. Tapi begitu udah waktunya ratifikasi, mereka ga mau ikutan. Bahkan mereka buat suatu perjanjian sendiri, yang intinya minta persetujuan negara-negara lain untuk ga bawa warga negara mereka ke ICC. Ini mereka lakukan karena mereka takut warga negara mereka bisa dikenain ketentuan soal kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kan banyak tuh tentara-tentara AS di negara lain, terutama negara-negara Timur Tengah. FYI, Indonesia juga ga ratifikasi Statuta Roma. Takut jenderal-jenderal kita pada dibawa ke ICC kali, ya :D
Nah, cukup labil kan si AS ini? Mentang-mentang dia kece, jadi suka seenaknya. Oke, sekarang kita omongin Indonesia, Si Cowok Playboy yang masih Bocah.
Kenapa gue bilang Indonesia Playboy? Ngga kayak AS, Indonesia banyak banget ratifikasi perjanjian internasional. Menurut Hukumonline, Indonesia bahkan keseringan ratifikasi perjanjian internasional. Bahkan perjanjian-perjanjian yang sebetulnya ngga perlu-perlu banget diratifikasi sama kita. Yang bikin gemes, ternyata kita pun ga siap untuk membuat instrumen hukum nasional terhadap perjanjian-perjanjian internasional yang udah kita ratifikasi. Memang ga semua perjanjian internasional yang udah diratifikasi perlu dibuat instrumen hukum nasionalnya, tapi kan yang perlu untuk dibuat ya mbok ya dibuat. Terkesan bahwa Indonesia pengen banget eksis di dunia internasional, tapi ngga nyadar konsekuensi apa aja yang akan mereka hadapin ke depannya. Hence, Si Playboy Ababil.
Partisipasi di dunia internasional emang perlu. Tapi kalo ngasal aja, bisa-bisa malah buang waktu. Perlu diketahui, cuma negara-negara yang ratifikasi perjanjian internasional aja yang akan terikat sama perjanjian internasional itu. Yang bikin gue miris, Indonesia udah ratifikasi konvensi soal perlindungan buruh migran, tapi Arab Saudi (funny how the US and Saudi Arabia is both shortened as AS in Indonesian. Just a thought :D), tujuan dari banyak buruh migran kita belum ratifikasi. Jadi peraturan yang ada dalam perjanjian internasional itu ya ga mengikat mereka. Jadi kalo ada pelanggaran yang mereka lakukan berdasarkan konvensi itu, mereka ga bisa diminta pertanggung jawabannya dari konvensi itu. Yang bisa dilakukan? Diplomasi. Pret.
Jadi ya, kalo emang mau berkomitmen, baik konteksnya dalam percintaan maupun dalam hukum internasional, ya berkomitmen lah yang bener. Kalo emang mau sok ngatur-ngatur tapi di akhirnya lo malah kabur, kan ngga gentleman. Kalo mau mengikatkan diri sama seseorang atau sesuatu, ya liat-liat dulu sama subjek atau objeknya, jangan sampe nyesel. Pengennya berkomitmen sama cewek cantik yang tinggi, langsing, pinter, rajin beribadah, dan rajin menabung, eh malah dapetnya lintah darat yang bisanya ngisap darah lo pelan-pelan dan tanpa lo sadari, lo udah mati :D

Monday, 10 October 2011

Ngga Mau Pakai Jilbab!!!


“Sebelum jilbabin muka, mending gue jilbabin hati gue dulu.”

“Ih, dasar cewek jilbab muna’. Masa’ jilbaban tapi masih pacaran?!”

“Make jilbab kok bajunya ketat? Mending ga pake jilbab sekalian”

“Pake jilbab kok kelakuan sama omongannya masih jelek sih?!”

“Gue pake jilbabnya nanti deh, belum dapat ilhamnya nih”

Harap dicatat, kesaksian-kesaksian -pemakaian ‘bullshit’ terpaksa disubstitusi karena dirasa terlalu jujur- di atas lebih banyak disumbangkan oleh para wanita yang tidak memakai jilbab.

Sense the irony?

Setahu saya, perintah pemakaian jilbab bukan eksklusif bagi mereka yang sudah mendapatkan pencerahan. Sepanjang yang saya dengar, pemakaian jilbab tidak melulu untuk mereka yang lembut tutur kata dan gemulai perbuatannya. Saya yakin, perintah pemakaian jilbab dalam kitab suci tidak mensyaratkan apa-apa. Perintahnya jelas: tutup auratmu.

Bahwa kemudian banyak pemikir yang menginterpretasikan perintah tersebut dengan bermacam dalil, bukan itu yang hendak diangkat.

Saya ingin mengangkat fakta sederhana bahwa ternyata yang digunjingkan bisa jadi lebih terhormat daripada Sang Penggunjing. Bahwa ada orang munafik teriak munafik, dengan lantang dan bangga. Bahwa Si Terdakwa telah dinyatakan bersalah oleh Pelanggar, karena telah menjadi seorang taat.

Monday, 26 September 2011

Bukti Mental Ndableg Tak Lekang Oleh Waktu

Coba teman-teman perhatikan lirik dari lagu berikut ini. Lagu ini judulnya Distorsi dari Ahmad Band. Menurut Wikipedia, band ini hadir pada tahun 1998. 13 tahun yang lalu. Yet the lyrics are still so much relevant. 


Bravo.


=========================================================


maunya selalu memberantas kemiskinan
tapi ada yang selalu kuras uang rakyat
ada yang sok aksi buka mulut protas protes
tapi sayang mulutnya selalu beraroma alkohol

reff :
yang muda mabuk, yang tua korup 2x
korup terus, mabuk terus
jayalah negeri ini, jayalah negeri ini

(merdeka...!!)
maunya selalu menegakkan keadilan
tapi masih saja ada sisa hukum rimba
ada yang coba - coba sadarkan penguasa

tapi sayang yang coba sadarkan
sadar aja nggak pernah
setiap hari mabuk....
ngoceh soal politik

setiap hari korup
ngoceh soal krisis ekonomi
perut kekenyangan bahas soal kelaparan
kapitalis sejati malah ngomongin soal keadilan sosial

selalu monopoli!
ngoceh soal pemerataan
setiap hari tucau
ngoceh soal kebobrokan

Tuesday, 13 September 2011

Here's The Green Light. Go(?)

What do you do when all the signs are smacked upon your face?

What should you do when the answer is as clear as an angel's heart? -should there be one.

What could be your reasoning -or rather, excuse- when the reason beacons brighter than Vin Diesel's bald head?

You do. You answer. You reason.

You act.

Monday, 12 September 2011

The Land of the Free. The Home of the Prihatin.

Indonesia tanah air Beta, akan selalu Beta cinta. Tidak tahu Alfa dan Gamma.

Indonesia tanah yang luhur, makmur, dan -beberapa tahun ini- penuh genangan lumpur.

Indonesia tanah pusaka. Tempat berlindung di hari tua. Untuk pendosa.

Indonesiaku...
Yang muda mabok, yang tua korup. (Terima kasih Distorsi untuk kata-katanya yang relevan hingga kini)
Yang muda menyuarakan -menurut mereka- suara rakyat, yang tua korup.
Yang muda larut dengan musik yang terdengar seperti gitar di-setem, berulang-ulang, yang tua korup.
Yang muda apatis, yang tua korup.
Yang muda merasa tahu segalanya, yang tua korup.
Yang muda juara olimpiade internasional, yang tua....... ya korup.


Beringin -seperti aslinya- makin bau pesing, sedangkan Padi dan Kapas menjadi konsumsi kaum kanan. Oh, maaf. Kanan menengah.
Ka'bah dikomersialisasi religius nasionalis, begitu pun Bulan dan Bintang Sabit. Padahal, bulan dan bintang katanya adalah sui generis (atau common heritage of humankind, lupa).
Banteng setia menjadi pseudo-representasi wong cilik, dengan perutnya yang tambun.
Dan KEBO? Yah.... Kebo akan senantiasa prihatin.

Merdeka!!

NB: Kalau tidak tahu apa itu sui generis atau common heritage of mankind, Google is only a click away.

Friday, 2 September 2011

Selamat Lebaran. Semoga Berkah.

Lucu.

Pas lebaran, gue minta maaf ke salah satu mantan gue dan nitip salam ke temen-temennya.

Reaksi dia.... Yah, bisa dikatakan permintaan maaf gue ditolak. FYI, dia ga minta maaf ke gue (padahal kan lebaran, iiiihh parah banget :p).
Bukannya gue berharap dia minta maaf ke gue. Ngga sama sekali. Cuma..... Kok ya ngga merasa bersalah aja yah.
Giliran gue minta maaf, ditolak mentah-mentah *straight face*

Post ini bukan ajang gue untuk menjelek-jelekkan mantan gue. Bukan.
Post ini justru untuk menampar gue (dan yang membaca, semoga) untuk menyadari bahwa keikhlasan itu penting.
Minta maaf itu gampang, memberi maaf untuk orang lain itu susah. Tapi memaafkan diri sendiri, itu yang butuh perjuangan :)
Ketika kita meminta maaf dari orang lain, baiknya kita sudah memaafkan orang itu.
Untuk apa? Ngga butuh alasan kan untuk maafin orang? :)

Silaturrahmi itu penting. Banget.
Nyadar ngga tiap kali ada yang ulang tahun, dinyanyiin lagu yang liriknya 'panjang umurnya'?
Padahal umur orang udah dipatok sama Tuhan. Lah, terus makna panjang umurnya di situ apa dong?

Tadi siang gue ke arisan keluarga besar almarhum kakek gue. Sebelum acara ada tauziah dulu.
Inti tauzia-hnya, silaturrahmi itu penting untuk memanjangkan umur. (Kenapa memanjangkan umur lagi????)

Ternyata, yang dimaksud memanjangkan umur di sini adalah dengan banyak-banyak berkenalan dengan orang lain, silaturrahmi, membina hubungan baik sama orang lain.
Karena kalo hubungan kita baik sama orang lain, ditambah kita berkarya, kita akan terus dibicarain dan dikenang sama orang lain.
Bahkan jauh setelah kita meninggal.

Saat merayakan ulang tahun, kita berinteraksi dengan orang lain.
Datang ke arisan keluarga, kita bersilaturrahmi dengan orang lain.
Umur kita makin panjang.

Itulah makna posting kali ini.
Ikhlas. Hablumminannaas. Berlaku baik ke orang lain. Bahkan kalo orang lain berlaku jahat ke kita :)

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf untuk kesalahan-kesalahan gue yang udah lewat yah! :D

Tuesday, 26 July 2011

Ketika Goresan Ide Bersuara

Seketika aku terbangun. Saat ini pukul 2 lewat 7 menit. Dini hari.

Aku terbangun dengan ratusan kata mengerubungi benak. Kata-kata yang tersambung, ide-ide yang beriring. Semua karena ratusan kata yang kulahap beberapa hari terakhir.

Kini kata-kata tak berhenti mengalir dari otakku. Mereka ingin dirangkai. Mereka ingin dipersatukan. Mereka ingin bercerita.

Ya. Kata-kata itu ingin bercerita.

Kata-kata itu ingin dianggap layaknya makhluk hidup. Karena sejatinya, ia pun makhluk. Ciptaan. Ia pun hidup. Dalam tiap imaji.

Ketika kata-kata itu ingin bercerita, aku tak kuasa. Kusebar saja kata-kata tanpa makna.

Selama kata-kata itu bercerita.