Showing posts with label holidays. Show all posts
Showing posts with label holidays. Show all posts

Friday, 2 September 2011

Selamat Lebaran. Semoga Berkah.

Lucu.

Pas lebaran, gue minta maaf ke salah satu mantan gue dan nitip salam ke temen-temennya.

Reaksi dia.... Yah, bisa dikatakan permintaan maaf gue ditolak. FYI, dia ga minta maaf ke gue (padahal kan lebaran, iiiihh parah banget :p).
Bukannya gue berharap dia minta maaf ke gue. Ngga sama sekali. Cuma..... Kok ya ngga merasa bersalah aja yah.
Giliran gue minta maaf, ditolak mentah-mentah *straight face*

Post ini bukan ajang gue untuk menjelek-jelekkan mantan gue. Bukan.
Post ini justru untuk menampar gue (dan yang membaca, semoga) untuk menyadari bahwa keikhlasan itu penting.
Minta maaf itu gampang, memberi maaf untuk orang lain itu susah. Tapi memaafkan diri sendiri, itu yang butuh perjuangan :)
Ketika kita meminta maaf dari orang lain, baiknya kita sudah memaafkan orang itu.
Untuk apa? Ngga butuh alasan kan untuk maafin orang? :)

Silaturrahmi itu penting. Banget.
Nyadar ngga tiap kali ada yang ulang tahun, dinyanyiin lagu yang liriknya 'panjang umurnya'?
Padahal umur orang udah dipatok sama Tuhan. Lah, terus makna panjang umurnya di situ apa dong?

Tadi siang gue ke arisan keluarga besar almarhum kakek gue. Sebelum acara ada tauziah dulu.
Inti tauzia-hnya, silaturrahmi itu penting untuk memanjangkan umur. (Kenapa memanjangkan umur lagi????)

Ternyata, yang dimaksud memanjangkan umur di sini adalah dengan banyak-banyak berkenalan dengan orang lain, silaturrahmi, membina hubungan baik sama orang lain.
Karena kalo hubungan kita baik sama orang lain, ditambah kita berkarya, kita akan terus dibicarain dan dikenang sama orang lain.
Bahkan jauh setelah kita meninggal.

Saat merayakan ulang tahun, kita berinteraksi dengan orang lain.
Datang ke arisan keluarga, kita bersilaturrahmi dengan orang lain.
Umur kita makin panjang.

Itulah makna posting kali ini.
Ikhlas. Hablumminannaas. Berlaku baik ke orang lain. Bahkan kalo orang lain berlaku jahat ke kita :)

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf untuk kesalahan-kesalahan gue yang udah lewat yah! :D

Thursday, 9 September 2010

Ramadhan

Hari ini hari terakhir bulan Ramadhan. Gue merasakan dua hal yang sebenernya bikin gue kaget: kangen dan nyesel. Kangen sama Ramadhan dan nyesel karena kurang memanfaatkan bulan ini untuk beribadah. Ngga kok, gue ga muna. Ini beneran gue rasain.

Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, gue uring-uringan. Karena sebentar lagi ga akan bebas untuk makan di siang hari, ga bebas untuk ngerokok, ga bebas untuk liat yang sexy-sexy, bakalan haus (let’s face it, it’s been pretty damn hot right?) dan berbagai ‘rintangan-rintangan’ lain yang ga boleh kita lakukan karena bakalan puasa. Padahal, tahun lalu gue pengen banget untuk memperbaiki puasa gue di tahun ini. Tapi begitu udah mau deket hari H, keder.

Hari-hari pertama puasa pasti berat. Bangun jam 4 untuk makan nasi bukan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalo kita baru bisa tidur jam 1 atau 2 pagi. Ngeliat timeline Twitter, @Sesa_Opas pasti selalu nulis ‘Alhamdulillah buka …/30’. Sebenernya itu membuat gue agak frustasi. Apalagi 5 hari pertama. Gue mikir, kapan tulisannya 30/30. Hari ini, tulisan itu bakal gue liat di timeline Twitter, dan anehnya, gue malah mau balik ke angka-angka 5/30, 10/30 atau bahkan 1/30.

Sebagai evaluasi dari gue sendiri, bulan Ramadhan ini gue masih amat sangat kurang ibadahnya. Terutama shalat wajibnya. Apalagi tarawih atau tadarusannya. Tapi, dibanding tahun lalu menurut gue tahun ini gue lumayan berhasil untuk menahan hawa nafsu. Atau mungkin aja tahun ini godaannya ga sebanyak tahun lalu. Tahun lalu sih tahun paling parah gue puasa. Semoga ga keulang lagi yang kayak gitu.

Tapi dari tahun lalu, gue bisa belajar banyak soal ‘ibadah’. Soal menahan nafsu. Soal nahan marah. Because to be frank, I’m a pretty emotional guy. Tahun lalu memang gue jadiin semacam percobaan. Gue coba untuk nakal, untuk ga taat. Hasilnya, gue merasa bersalah. Nah tahun ini lebih kayak test drive dari pelajaran tahun lalu. Sayangnya, ibadah vertikal gue masih kurang. Seakan pelajaran tahun lalu ga ada gunanya. Tapi setelah dipikir lagi, kita memang butuh masa-masa ‘coba-coba’ dan masa-masa nakal. Semata untuk ukur diri kita sendiri aja.

Overall, gue ga puas sama puasa gue tahun ini dari segi ibadahnya. Tapi gue cukup puas sama kemampuan gue untuk mengontrol emosi gue. Sesuatu yang ga semua orang bisa lakukan tampaknya.

Selamat Ied al-Fitri semuanya. Semoga kita masih ketemu Ramadhan taun depan.