Thursday, 9 September 2010
Ramadhan
Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, gue uring-uringan. Karena sebentar lagi ga akan bebas untuk makan di siang hari, ga bebas untuk ngerokok, ga bebas untuk liat yang sexy-sexy, bakalan haus (let’s face it, it’s been pretty damn hot right?) dan berbagai ‘rintangan-rintangan’ lain yang ga boleh kita lakukan karena bakalan puasa. Padahal, tahun lalu gue pengen banget untuk memperbaiki puasa gue di tahun ini. Tapi begitu udah mau deket hari H, keder.
Hari-hari pertama puasa pasti berat. Bangun jam 4 untuk makan nasi bukan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalo kita baru bisa tidur jam 1 atau 2 pagi. Ngeliat timeline Twitter, @Sesa_Opas pasti selalu nulis ‘Alhamdulillah buka …/30’. Sebenernya itu membuat gue agak frustasi. Apalagi 5 hari pertama. Gue mikir, kapan tulisannya 30/30. Hari ini, tulisan itu bakal gue liat di timeline Twitter, dan anehnya, gue malah mau balik ke angka-angka 5/30, 10/30 atau bahkan 1/30.
Sebagai evaluasi dari gue sendiri, bulan Ramadhan ini gue masih amat sangat kurang ibadahnya. Terutama shalat wajibnya. Apalagi tarawih atau tadarusannya. Tapi, dibanding tahun lalu menurut gue tahun ini gue lumayan berhasil untuk menahan hawa nafsu. Atau mungkin aja tahun ini godaannya ga sebanyak tahun lalu. Tahun lalu sih tahun paling parah gue puasa. Semoga ga keulang lagi yang kayak gitu.
Tapi dari tahun lalu, gue bisa belajar banyak soal ‘ibadah’. Soal menahan nafsu. Soal nahan marah. Because to be frank, I’m a pretty emotional guy. Tahun lalu memang gue jadiin semacam percobaan. Gue coba untuk nakal, untuk ga taat. Hasilnya, gue merasa bersalah. Nah tahun ini lebih kayak test drive dari pelajaran tahun lalu. Sayangnya, ibadah vertikal gue masih kurang. Seakan pelajaran tahun lalu ga ada gunanya. Tapi setelah dipikir lagi, kita memang butuh masa-masa ‘coba-coba’ dan masa-masa nakal. Semata untuk ukur diri kita sendiri aja.
Overall, gue ga puas sama puasa gue tahun ini dari segi ibadahnya. Tapi gue cukup puas sama kemampuan gue untuk mengontrol emosi gue. Sesuatu yang ga semua orang bisa lakukan tampaknya.
Selamat Ied al-Fitri semuanya. Semoga kita masih ketemu Ramadhan taun depan.
Tuesday, 17 August 2010
Merdeka
Merdeka. Maknanya dekat dengan kedaulatan. Di mana turunan dari kemerdekaan suatu negara adalah kedaulatan negara tersebut. Setelah negara tersebut tidak lagi terikat kepada negara penjajahnya, ia memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengatur keadaan dalam negerinya sendiri. Begitu pula dengan manusia. Seorang manusia merdeka pasti memiliki kedaulatannya sendiri. Ketika manusia itu bukan 'milik' dari manusia lain, maka ia berdaulat atas dirinya sendiri. Ia berdaulat atas tubuhnya sendiri, atas pemikirannya sendiri. Hugo Grotius, seorang jenius yang menjadi penasihat Raja Perancis saat umurnya masih sangat muda dan juga merupakan bapak hukum internasional, menyatakan bahwa manusia itu independen. Terlebih lagi, ia menyatakan bahwa manusia adalah independen di hadapan tuhan. Ia menyatakan hal ini bukanlah karena ia seorang atheis atau agnostik, bukan. Ia adalah seorang Kristen yang taat. Namun ia berpendapat bahwa kedudukan manusia di hadapan tuhan adalah independen. Manusia tidak bergantung, atau dalam kata lain dependen, kepada tuhannya. Dengan akalnya, manusia bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan secara logis. Manusia bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah, berdasarkan akal mereka sendiri.
Sudah lebih dari 60 tahun negara kita terlepas dari penjajahan bangsa asing. Bebas dari kekuasaan negara asing. Dengan kata lain, sudah merdeka. Ya, negara kita sudah merdeka. Secara entitas kenegaraan memang kita sudah merdeka. Namun kemudian timbul pertanyaan, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Dalam konteks apakah kemerdekaan itu kita capai?
Pembangunan memang bisa dilihat semakin membaik. Paling tidak bagi kita yang tinggal di Jakarta. Namun apakah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sudah merata? Segala macam justfikasi pun diberikan. Mulai dari tidak meratanya pembangunan saat rezim orde baru, kekurangan sumber daya manusia dan alam, juga kurangnya akses infrastruktur pendukung seperti listrik dan jalan raya.
Bung Karno pernah berkata di Sidang BPUPKI bahwa kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas. Kemerdekaan bagi negara hanyalah sebuah alat. Justru di seberang jembatan itulah kita menyempurnakan masyarakat, kita sempurnakan kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang seharusnya diisi dengan bekal kecerdasan dari rakyatnya. Kemerdekaan yang menjamin kebebasan warganya untuk berpikir, untuk berbuat, untuk berkarya.
Di tangan rakyat Indonesia lah perubahan akan terjadi. Itulah inti demokrasi. Semua yang kita lakukan, kita lakukan untuk orang lain dan untuk diri kita sendiri. Dari kita, untuk kita, oleh kita. Dari semua, untuk semua. Di sini lah peran negara untuk menjamin dan memastikan rakyatnya memiliki kebebasan untuk berpikir, untuk berkarya sesuai dengan passion-nya masing-masing. Di situlah hakikat kemerdekaan teman-teman, ketika kita semua bebas untuk menentukan jalan pikiran sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain, tanpa hambatan dari pihak lain. Karena manusia yang merdeka adalah manusia yang lepas dari kekangan pihak lain. Manusia merdeka juga lah yang mengisi kemerdekaan negara tercinta ini. Salah satu bentuk kemerdekaan manusia adalah kebebasannya untuk berpikir.
Kebebasan berpikir inilah yang menjadikan manusia 'manusia'. Pasti kita semua telah mendengar cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada. Dengan pemikiran, manusia menjadikan dirinya berguna. Dengan berpikir, dengan akal tentunya, manusia membuktikan bahwa ia adalah makhluk paling sempurna yang telah Tuhan ciptakan. Apabila manusia kehilangan kemampuannya untuk berpikir, maka makna dari kemanusiaannya telah terkikis. Kebebasan berpikir ini tidak harus terkungkung dengan keadaan yang damai. Tidak. Tulisan-tulisan terbaik dari orang-orang terbaik dunia lahir dalam keadaan yang tidak bebas, dipenjara. Sayyid Qutb, Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, bahkan seorang Adolf Hitler melahirkan maha karya dari balik jeruji besi. Pemikiran seseorang tidak akan dapat dikekang oleh tekanan penjara sekalipun.
Jadi, pertanyaan 'sudahkan kita benar-benar merdeka?' dapat kita balik pertanyakan, 'dalam konteks kemerdekaan yang mana?'. Dalam konteks kenegaraan, ya kita sudah merdeka. Tapi pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah 'apakah SAYA sudah merdeka?'. Apabila ternyata kita sudah merasa merdeka secara pribadi, maka marilah kita isi kemerdekaan negara kita bersama-sama, di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan kesejahteraan. Kita raih kehidupan yang merdesa bersama. Merdeka !!!
Yours sincerely,
Muhammad Naufal Fileindi
http://naufalfileindi.blogspot.com
Thursday, 6 May 2010
Bank Dunia dan Perjuangan SMI Oleh: Brian A Prastyo
_________________________________
Selama bertahun-tahun bank dunia selalu memberikan hutang yg teramat besar padahal mereka tahu betapa korupnya pemerintah, dpr, dan peradilan kita. Kenapa? Karena mereka tau bhw untuk mengendalikan suatu negara, maka negara itu harus dibuat terus menerus tidak sanggup membayar hutangnya. Jadi kuncinya bukan besarnya jumlah hutang, tp bagaimana agar negara itu tidak punya kemampuan utk membayar hutang nya.
Sebagai negara yg kekayaan alamnya melimpah dan jumlah penduduk nya besar, maka kalau bangsa ini bebas dari korupsi, niscaya berapapun besarnya hutang kita ke bank dunia pasti akan terbayar.
Nah sumber penerimaan negara itu ada 2, yaitu pajak dan bukan pajak. Di bawah ibu itu, penerimaan pajak melonjak drastis krn perusahaan2 besar yg selama ini nyaman ngemplang pajak pada ditagih2in. Budaya internal kantor pajak pun perlahan berubah. Tentu saja belum semuanya bersih, karena maling2 di kantor pajak itu terlalu banyak. Tp ibu itu memberi contoh bagaimana menyikapi maling yg ketahuan; dia copot 10 atasan si maling itu. Silahkan anda bandingkan sikap dia itu dengan sikap pimpinan parpol, kepolisian, kejaksaan, mahkamah agung yg anggotanya ketauan maling atau terima suap.Kondisi ini sbnrnya membahayakan bank dunia. Karena jika internal pajak bersih, maka Indonesia akan punya cukup uang utk membayar hutangnya. Bisa saja jika ibu itu tetap disitu, pada akhir pemerintahan kabinet skrg, bangsa ini bebas dari hutang ke bank dunia.
Selain itu kondisi ini menyakitkan utk perusahaan2 besar yg menjadi kroni atau milik dari elit2 bank dunia yg selama ini tdk bayar pajak yg semestinya. Jelaslah bagi bank dunia, sri mulyani indrawati harus dikendalikan.Dan bank dunia punya 2 pilihan, mengendalikan ibu itu dg memberinya jabatan yg sangat prestisius (cara halus) atau membinasakan total karir dan kredibilitasnya, bahkan mungkin nyawanya kalo terpaksa (cara kasar). Dengan tidak adanya ibu itu di pos itu, bank dunia berharap program bersih2 di lingkungan departemen keuangan pun akan berhenti.
Jadi dg tidak adanya ibu itu, skenario bank dunia ke depan kira2 begini: bank dunia akan memberikan lagi dan lagi hutang2 teramat besar yg pasti akan dikorup disini. Dan mereka akan berusaha agar departemen keuangan khususnya ditjen pajak kembali korup seperti dulu. Jadi Indonesia punya hutang yg banyak dan gak punya duit untuk bayar. Itulah yg diinginkan bank dunia. Dengan cara itulah maka perusahaan2 besar kroni mereka akan aman dari tagihan2 pajak, mereka akan tetap leluasa mengontrol perekonomian kita, dan bangsa ini tetap jadi budak karena ketidakmampuannya membayar hutang.
Pada suatu titik secara terang2an bank dunia atau kroni2nya pasti akan meminta pemecahan Indonesia sebagai kompensasi untuk pengurangan atau penghapusan hutang.
Jadi...sadarlah sobat, ini bukan sekedar intrik elit dalam negeri. Saya pribadi percaya bahwa sri mulyani indrawati punya integritas dan kecintaan yang mendalam terhadap bangsa Indonesia. Dan mudah2an beliau sadar hikmah di balik nama "teuku umar"; bahwa itu bukan sekedar nama jalan yg kebetulan menjadi terkenal dalam panggung politik Indonesia, tetapi sesungguhnya pesan agar beliau bisa meneladani perilaku dari pahlawan yg menyandang nama itu. Selamat berjuang ibu. Ingatlah, jangan pernah takut dan jangan pernah meminta pertolongan pada apapun dan siapapun kecuali pada Allah. Pahit yg ibu alami di dunia ini akan menjadi manis kelak di akhirat nanti jika ibu ikhlas bekerja sebagai ibadah kepada Allah. Ingatlah pula selalu hymne kebanggaan almamater ibu, Universitas Indonesia: ...dan mengabdi Tuhan dan mengabdi Bangsa dan Negara Indonesia. Semoga keberkahan dan rahmat Allah selalu menyertai ibu.
Brian A. Prastyo- Warganegara Republik Indonesia -
Ps: yg setuju dg pandangan saya, mohon berkenan menyebarkannya. yg tidak setuju silahkan lakukan apa yg anda mau.
Yours sincerely,
Muhammad Naufal Fileindi
http://naufalfileindi.blogspot.com
Tuesday, 4 May 2010
Teman
Menarik sih kalo kita mau omongin soal pertemanan, apalagi dari sudut pandang gue. Gue bukan orang yang gampang berteman. Tapi gue dengan cukup mudah bisa merasa deket sama orang. Terlepas dia temen gue atau bukan. Bahkan kadang gue suka nganggep seseorang, atau sekelompok orang, sebagai teman. Walaupun orang itu, atau kelompok itu, ga nganggep gue temen. Yah, ga kayak gue nganggep mereka temen lah paling ngga.
Tapi coba lo tanya ke diri lo sendiri deh, siapa sih temen lo? Atau lebih dalem lagi, kayak apa sih orang yang lo sebut 'temen' itu?
Terus terang buat gue, temen itu orang yang bisa nerima & ngerti gue kayak apa. Bisa DUKUNG gue, untuk hal-hal positif sih pastinya. Bukan orang yang dateng pas dia ada maunya doang, atau mau sama gue kalo keadaannya enak doang. Standar sih sebenernya definisinya, tapi ya emang kayak gitu. Karena sebenernya agak susah dealing sama gue. Gue orangnya keras banget, batu. Malah kadang suka ga peduli sama kata orang lain. Gue suka ngomong seenak udel gue, ga jarang malah kesannya ngatain atau sarkas. Padahal sih sebenernya gue blak-blakan aja orangnya. Face it, I'm a straight forward guy. Gue bukan tipe yang bisa basa basi. Itu sih bullshit doang.
Nah, kalo gue disuruh sebut siapa temen gue, bingung. Karena itu, blom tentu mereka nganggep gue temen mereka. Contoh, orang yang udah paling lama kenal sama gue, Iman Sjafei. Gue udah kenal sama dia dari SD, tapi baru deket banget jaman SMP lah. Dari waktunya, dia SEHARUSNYA jadi temen deket gue. Yah, gue ga nganggep dia temen sih, udah macem saudara aja. Mulai dari hal-hal kecil sampe hal-hal besar juga saling cerita. Tapi ya itu, dia nganggep gue kayak gitu juga apa ga, jujur, gue blom yakin kadang-kadang.
Trus jaman SMP, gue ada genk gitu. Dulu kita deket banget. Lulus SMA, paling cuma tegor-tegoran dikit aja. Soalnya ada yang ke Bogor, ada yang ke Surabaya, ada yang sekolahnya beda walau kotanya sama. Tapi yah itu, sejak SMA hubungan kita udah renggang. Bahkan sekarang, gue cuma punya kontak 1 orang doang. Itupun jarang kontakan karena susah dihubungin.
Masuk SMA, masuk jaman transisi. Karena gue anak pindahan, gue susah masuk ke lingkungan pertemanan yang udah kebentuk dari kelas 1 di sekolah itu. Pas naik ke kelas 2, gue pindah sekolah. Alhasil, paling cuma ada beberapa doang yang bisa gue sebut 'temen' saat SMA. Tapi untungnya, beberapa diantaranya masih ngebina hubungan yang cukup baik sama gue sampe sekarang. Masih jadi tempat curhat, main air soft gun bareng, main PES bareng, jalan bareng.
Kuliah, dulu kita dibagi-bagi ke kelas MPKT. Di situ gue nemuin temen-temen yang luar biasa. Emang sih, orang-orang yang di kelas itu hasilnya keren semua (termasuk gue hehehe...). Ada yang jadi wakil ketua BEM fakultas Plt, Korbid BEM UI, Abang Jakarta, Babe angkatan, ketua departemen BEM, finalis Duta Muda ASEAN, Mahasiswa Berprestasi Utama FHUI *ehem*, dan banyak lagi. Tapi yang paling keren lagi, justru di sini gue nemuin kelompok pertemanan yang paling solid yang masih bertahan sampe sekarang. Panggilan noraknya, KLM. Absen kelas MPKT-nya absennya dari K sampe M soalnya -____-"
Orang-orang di sini, Lidyar, Irza, Aldo, Lanang, Aya, Mita, Kenya, Babeh, Ibnu, adalah orang-orang yang baik banget. Gue blom nemuin 'temen-temen' sesolid ini sampe sekarang. For that, I thank you guys :)
Tapi ya itu tadi, apakah mereka ngerasain hal yang sama kayak gue? Bisa jadi. Bisa juga ngga.
Gue yakin banget temen yang beneran temen bakal tetep ada sampe kita tua. Yang mau jadi panitia kawinan kita, yang mau dateng pas akikah anak-anak kita, yang mau dateng ke acara ulang taun kita sesibuk apapun mereka, dan yang pasti, yang mau dateng pas kita meninggal.
Jadi, saran gue buat temen gue yang BBM semalem, dan buat diri gue sendiri sih, ga usah diambil pusing lah soal ini. Perbanyak aja koneksi, perbanyak 'temen', karena bisa aja temen sejati yang kita harapkan kecantol juga :)
Yours sincerely,
Muhammad Naufal Fileindi
http://naufalfileindi.blogspot.com
Monday, 3 May 2010
Passion-Pendidikan
Passion adalah suatu dorongan, suatu hasrat, sesuatu yang sangat kita cintai dan nikmati. Padanan kata bahasa Indonesia yang tepat secara harfiah mungkin hasrat. Passion adalah sesuatu yang sangat kita gemari dan sukai, sehingga pada saat kita melakukannya maka kita akan melakukannya dengan sepenuh hati. Ada orang yang memiliki passion makanan, maka dia akan mengetahui segala macam makanan dari segala penjuru dunia. Ada orang yang passion-nya olahraga, maka dia akan mengetahui berbagai macam olahraga yang ada di dunia ini, atau bahkan menggeluti salah satu bidang olahraga yang sangat menarik untuk dia. Ada yang memiliki passion dalam bidang busana, maka ia akan dapat menunjukkan dengan lugas berbagai macam mode yang sedang in saat ini. Tidak jarang orang yang memiliki passion tertentu bahkan terjun dalam industri passion-nya sendiri. Pemilik passion makanan dapat membuka rumah makan, seorang perenang bisa menjalankan passion¬-nya yaitu olahraga renang, dan orang yang memiliki passion otomotif dapat terjun sebagai pembalap atau bahkan membuka bengkel. Yang pasti, selain dapat memberikan kepuasan batin, passion seseorang dapat ditransformasikan untuk memberikan keuntungan finansial bagi diri sendiri, dan memberikan manfaat untuk orang lain.
Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa dalam dalam melakukan sesuatu maka kita harus melakukan sesuai dengan passion kita, karena hasil yang akan didapatkan akan berkali-kali lipat. Orang-orang yang mengatakan hal tersebut mulai dari seorang yang secara profesional mengajarkan mengenai passion, hingga seorang tokoh fiktif dalam sebuah film. Seseorang yang telah sejak lama membahas mengenai passion ini adalah Rene Suhardono Canoneo, seorang career coach yang mengajarkan bahwa pekerjaan kita bukanlah karir kita apabila tidak dilakukan dengan passion. Contoh dari tokoh lain adalah Mochtar Kusumaatmadja. Menurut penuturan dari beberapa orang, Prof. Mochtar memiliki passion berupa hukum laut. Dengan passion¬-nya itu, beliau telah menelurkan konsep baru yang di kemudian hari memberikan keuntungan berupa keamanan, kewilayahan, dan ekonomi bagi Indonesia. Konsep tersebut adalah konsep negara kepulauan (archipelagic state). Saya pun berkesempatan untuk bertemu dengan orang lain yang bekerja dengan mengutamakan passion-nya. Beliau adalah Rahmat Soemadipradja, salah satu pendiri kantor hukum terkemuka di Jakarta. Bahkan beliau dengan lugas menyatakan bahwa, dan saya mengutip, ‘’jangan sia-siakan waktu dengan melakukan hal yang kamu tidak suka. Lakukan sesuatu yang kamu suka, dan apabila kamu hebat dalam melakukan hal tersebut, uang yang akan mencari kamu, bukan kamu yang mencari uang’’.
Yang mungkin sedikit nyeleneh adalah saya juga mengambil pernyataan dari salah satu tokoh dalam film 3 Idiots, Ranchoddas Chancadd. Ia pun mengatakan bahwa kita harus menjalani passion kita dalam hidup. Dalam film itu, Rancho, seorang yang passion-nya adalah rekayasa mesin, masuk ke suatu Institut Teknik terkemuka dan sukses menjadi peneliti yang memiliki 400 paten atas namanya.
Lalu apa hubungannya dengan pendidikan? Apa pula hubungannya dengan istilah ‘I hate Monday’ di atas? Banyak.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kebanyakan karyawan yang mengeluhkan datangnya hari Senin adalah mereka yang terbebani dengan pekerjaan mereka. Mereka tidak mencintai pekerjaan mereka karena mereka tidak bisa meneukan passion mereka dalam pekerjaan tersebut. Hal ini sudah terinkorporasi dalam sistem pendidikan kita, terutama sejak SMP hingga SMA. Sejak dulu, sistem pendidikan kita mengkotak-kotakkan muridnya berdasarkan IPA atau IPS. Padahal tidak sedikit murid IPS yang jago dalam fisika, atau murid IPA yang lihai dalam akuntansi. Seharusnya murid-murid dibebaskan untuk memilih mata pelajaran apa yang mereka sukai. Sesuai dengan passion mereka. Dibuat dalam sistem mayor-minor, layaknya sistem pendidikan di AS. Dengan demikian, pelajar dapat menemukan passion mereka sendiri sehingga pekerjaan yang mereka lakukan pun hasilnya akan maksimal. Apabila mayoritas pekerja kita sudah tidak bekerja lagi, melainkan sudah dalam tahap berkarya, maka Indonesia akan mencapai tahap yang dinamakan merdesa. Oleh karena itu, sistem pendidikan kita harus diubah secara bertahap menuju sistem pendidikan yang saya sebutkan karena hambatannya sangat besar. Namun, apabila kita melakukannya dengan niat, apapun dapat dilakukan.
Untuk penutup, akan saya hadirkan ucapan dari Rene Suhardono yang berbunyi ‘embrace your passion, live a life of action, and build our nation’. Mari capai merdesa dengan menemukan passion kita masing-masing.
Saturday, 20 March 2010
Senioritas adalah..... ( I )
Jadi dari tadi di twitter temen-temen angkatan gw pada ribut ngomongin ospek mereka ke angkatan 2008. Trus kenapa ? salah ngomongin ospek dan bernostalgia dengan masa lalu? Ngga. Yang bikin gw agak mengerutkan dahi adalah pernyataan salah seorang temen gw yang bilang kalo tolak ukur kesuksesan ospek adalah karena juniornya (dalam hal ini angkatan 2008) takut sama seniornya. Saking takutnya dia sampe hampir jatoh karena nunduk terus.
Nyet, ngapain banget sih harus bangga kalo junior sampe lari terbirit-birit sama lo? Emang ada manfaatnya juga buat kita? Ngga kan? Trus ngapain juga harus bangga dan bilang ospeknya sukses?!
Menurut gw tolok ukur kesuksesan bukan dari ketakutan si junior ke senior, tapi justru gimana caranya si senior bisa menciptakan keadaan di mana sesama junior bisa tenggang rasa dan berinteraksi sesamanya. Mau dengan menciptakan suasana mencekam, silakan. Mau acara joget-joget, silakan. Mau dicekokin film-film perang supaya lebih militan, silakan. Tapi tolong liat aim dari acara ospek ini, yaitu pengakraban dan proses penjalinan kerjasama antar junior. Bukan ajang gencet-gencetan atau intimidasi senior terhadap junior.
Gw bukannya tipe yang nolak-nolak “kekerasan” dalam ospek. Bukan. Bahkan kalo lo mau main keras-kerasan sama gw ayo aja. Gw digojlok sama TNI selama 10 hari berturut-turut kok pas gw ospek SMA (tetep aja kalah sama anak-anak Taruna Nusantara). Blom lagi penyiksaan mental dan fisik di Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Masalah “kekerasan” kayak ospek kampus doang sih kecil. Tapi di sini yang harus disorot bukan masalah pemakaian kekerasan dalam ospek atau tidaknya, tapi soal esensi dari ospek itu sendiri.
Pas digojlok sama TNI, hal yang bisa gw dapet adalah soal disiplin diri, kesigapan, nurut sama ‘atasan’, ga cengeng dan bisa beradapasi sama keadaan apapun, dan masih banyak lagi. Di Paskibra kurang lebih sama lah. Yang unik di Paskibra adalah gw belajar untuk memimpin orang lain, tapi kadang juga harus mau untuk dipimpin sama orang lain. Kan ada tuh orang-orang yang ga mau dengerin omongan orang dan kerjaannya merintah doang, mati aje lu. Pesan-pesan moral itu yang harus bisa diciptakan oleh senior-senior yang nanti bakal ngospekin juniornya, ya dalam hal ini di kampus gw lah ya.
Kadang gw bingung, ngapain juga ya kita harus keras gitu. Untuk dapetin wibawa dari junior? Supaya terkesan garang dan jagoan? Dikira hebat? Gile, picik juga pikirannya kalo kayak gitu. Menurut gw rasa hormat dan wibawa itu ga bisa dikasih begitu aja, tapi lo emang bener-bener layak untuk dapetinnya. It is something that you earn, not something that you get. Orang pun akan tau mana yang harus dihormatin, mana yang ngga. Mana yang cuma gila hormat, sama mana yang emang layak untuk dapet penghormatan dari kita.
Udah hampir setaun ini gw mimpin 2 organisasi besar. Kenapa besar ? karena yang satu organisasi yang cakupannya nasional, dan yang satu adalah organisasi baru yang cakupannya universitas, bukan cuma lingkup fakultas. Dalam setaun ini juga gw belajar banyak sebagai seorang ketua. Satu hal yang gw sadarin banget, jadi seorang ketua ga otomatis bikin lo jadi seorang pemimpin. Being a head of some organization is one thing, but being their leader is another thing. Dan setiap harinya gw selalu menyadarkan diri gw kalo ga cukup gw menyandang status sebagai ketua dari organisasi itu, tapi gw juga harus bisa memimpin kedua organisasi tersebut dengan sama baiknya. Dalam memimpin dua organisasi itu gw ga memosisikan diri gw sebagai ketua, tapi sebagai sesama anggota dari organisasi. Cuma kebetulan aja jabatan gw sebagai ketua. Gw juga berusaha untuk se-humble mungkin di depan anggota-anggota gw (yang tau gw kayak gimana, pasti susah ngebayanginnya hehehe), karena menurut gw seorang pemimpin bukanlah seseorang yang disegani karena kekuasaannya, tapi disegani lewat perbuatannya yang santun, santai, tapi tegas. Gw penganut tipe pemimpin yang ing madyo mangun karso. Alhamdulillah feedback dari anggota-anggota yang baru baik, walaupun beberapa anggota lama bilang gw terlalu lembek sama anggota baru. But that’s how I roll things. I like to lay back, not boss around, but still have my dignity as “the boss”. Because being the boss means being a leader. And being a leader means being their friend.
Kaitannya sama ospek adalah, ga perlu kita yang sebagai senior menciptakan keadaan supaya junior takut atau segan sama kita, tapi kita justru harus jadi temen mereka. Kasih mereka pengertian, bimbingan, arahan baru di lingkungan baru mereka. Jangan pikirin diri kita yang harus dihormatin, tapi justru pikirin gimana caranya supaya mereka bisa bersosialisasi dan bekerjasama antar angkatan mereka sendiri. Because being the older batch doesn’t make us their seniors, but it makes us their older brothers and sisters