Semalam gue nonton serial How I Met Your Mother musim keenam. Di salah satu episode yang gue tonton, ada satu kejadian saat Robin disuruh menghapus salah satu nomor di daftar kontak telefon genggamnya oleh Lily. Nomor itu adalah nomor kontak Don, mantan pacar Robin. Ternyata Robin masih nyimpen perasaan terhadap Don karena dia belum dapet closure sejak mereka putus. Awalnya, Robin ga mau hapus nomor itu, wajar sih karena dia masih nyimpen perasaan (atau penasaran) ke Don. Tapi di akhir episode itu, Robin akhirnya bisa lupa sama Don. Nomor kontaknya pun diapus sama Robin. Setelah nonton episode itu, gue pun melakukan hal yang ngga gue kira bakal gue lakukan. Gue hapus nomor kontak dia dari telefon genggam gue.
Saturday, 15 January 2011
Over and Out
Friday, 14 January 2011
Rejected
Wednesday, 5 January 2011
Hukum: Sebuah Perkenalan
Friday, 19 November 2010
Hell
You know what REALLY hurts?
It's that I can still feel and remember every single detail about You that's stuck in my head. Every single detail of it. And it hurts.
How You smile while looking into my eyes. It's really hipnotizing. How You (sometimes) laugh at my unfunny jokes. How You say 'kayak' that's so annoyingly cute. How You say 'gitu ya' that's really..... You. How You would tell me stories with enthusiasm. How You strictly forbid me from smoking & telling me to do my thesis -that I do listen. How You giggle. How Your sleepy voice lullabies me to sleep. And how You say 'good night'.
It's all in my head. I can't get it out even if I try to. Now I don't even know how to feel when I remember it.
People say that you can't really appreciate what you have until it's gone. But how can you say something's gone when it's not even there in the first place.
All I can feel now is an empty feeling of disappointment. Disappointment of...... Something that's not even there.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Tuesday, 16 November 2010
"..... Lil muttaqiina imaama"
_______________________________________________
"Rabbana hablana minazwaajina, wazurriyyatina qurataa'yun, waj'alna lilmuttaqiina imaama"
Anyone heard of that prayer? Yes, it's a prayer for obtaining a couple. A pious couple. For me, this prayer is a personal favorite. And yes, it has such a beautiful meaning. Believe it or not, God has answered my prayer for this particular prayer everytime I put my heart into it. And now, I think God has answered my prayer, regarding You. Yes, You.
At first, to be frank, I never thought that I'd develop any kind of feelings towards you. No. I was too afraid. Getting out of a beautiful relationship with such atrocity made me a coward. I dare not hurt my feelings in such a short time. I dare not. But then, You grew on me. In the slightest time, You grew on me. I began to open my feelings again. And was excited, and afraid, at the same time. Again, I dare not hurt my own feelings. No, not in such a short time.
The circumstances that occurred while my feelings opened were too harsh. Curse, it was too harsh. In fact, it may damage my relationship between me and my best friend. Although Pandji said that the game of love is only between two persons in it, I can not bear the circumstances that follow. I can not bear losing my best friend.
To you, My Brother, these past few weeks have been excruciatingly hard for me. I lost someone to turn to, I lost someone to lash out all my negative emotions, but most of all, I lost someone to share my laughs with. For that, I apologise. This is not about winning nor losing, but this is about who has the bigger strength. And I think it is you. For that, I apologise. I finally know how you feel about her, and for that, I apologise.
To You, I could be someone you talk to in the middle of the night without you thinking of interrupting. I could, if You'd let me. I would be someone to accompany You through a random day, driving along the city, singing, playing, chatting. I would, if You'd let me. I will be able to sing songs with my guitar, even though I'd have to search the chords in the internet and recite it hundreds of time. I will, if You'd let me. But then again, those are all clichés. And for You, clichés are not worth it. You deserve something better. Something more grandeur.
If I may say, I was valiant enough to imagine that it was You who would accompany me in my graduation day. I was valiant, and sure enough to introduce You to my whole family. Especially my mother. But I dare not, even for the slightest bit, to have expectations that we would be more than friends. I dare not, to even hope, about 'us'. I dare not, for I will suffer.
We started as friends, and I think - and hope - that we will still remain as friends. As friends, nothing more, nothing less. I think it is for the best interest that we remain as friends now. But should You think the opposite, I would not say that the chance is closed. If we were meant to be, then 'we' will be.
I apologise for writing this and for not saying this in person. Withstanding emotional grief is one emotion that I can not handle these past days. Things I've done in your presence, good or bad, is merely a manifestation of the comfort I felt towards You. For that, I apologise if you've felt any discomfort.
And so, the recital of the prayer will be my daily dose of medicine. For God speaks in mysterious ways.
Yours sincerely,
Muhammad Naufal Fileindi
http://naufalfileindi.blogspot.com
Thursday, 9 September 2010
Ramadhan
Beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, gue uring-uringan. Karena sebentar lagi ga akan bebas untuk makan di siang hari, ga bebas untuk ngerokok, ga bebas untuk liat yang sexy-sexy, bakalan haus (let’s face it, it’s been pretty damn hot right?) dan berbagai ‘rintangan-rintangan’ lain yang ga boleh kita lakukan karena bakalan puasa. Padahal, tahun lalu gue pengen banget untuk memperbaiki puasa gue di tahun ini. Tapi begitu udah mau deket hari H, keder.
Hari-hari pertama puasa pasti berat. Bangun jam 4 untuk makan nasi bukan kegiatan yang menyenangkan. Apalagi kalo kita baru bisa tidur jam 1 atau 2 pagi. Ngeliat timeline Twitter, @Sesa_Opas pasti selalu nulis ‘Alhamdulillah buka …/30’. Sebenernya itu membuat gue agak frustasi. Apalagi 5 hari pertama. Gue mikir, kapan tulisannya 30/30. Hari ini, tulisan itu bakal gue liat di timeline Twitter, dan anehnya, gue malah mau balik ke angka-angka 5/30, 10/30 atau bahkan 1/30.
Sebagai evaluasi dari gue sendiri, bulan Ramadhan ini gue masih amat sangat kurang ibadahnya. Terutama shalat wajibnya. Apalagi tarawih atau tadarusannya. Tapi, dibanding tahun lalu menurut gue tahun ini gue lumayan berhasil untuk menahan hawa nafsu. Atau mungkin aja tahun ini godaannya ga sebanyak tahun lalu. Tahun lalu sih tahun paling parah gue puasa. Semoga ga keulang lagi yang kayak gitu.
Tapi dari tahun lalu, gue bisa belajar banyak soal ‘ibadah’. Soal menahan nafsu. Soal nahan marah. Because to be frank, I’m a pretty emotional guy. Tahun lalu memang gue jadiin semacam percobaan. Gue coba untuk nakal, untuk ga taat. Hasilnya, gue merasa bersalah. Nah tahun ini lebih kayak test drive dari pelajaran tahun lalu. Sayangnya, ibadah vertikal gue masih kurang. Seakan pelajaran tahun lalu ga ada gunanya. Tapi setelah dipikir lagi, kita memang butuh masa-masa ‘coba-coba’ dan masa-masa nakal. Semata untuk ukur diri kita sendiri aja.
Overall, gue ga puas sama puasa gue tahun ini dari segi ibadahnya. Tapi gue cukup puas sama kemampuan gue untuk mengontrol emosi gue. Sesuatu yang ga semua orang bisa lakukan tampaknya.
Selamat Ied al-Fitri semuanya. Semoga kita masih ketemu Ramadhan taun depan.
Tuesday, 17 August 2010
Merdeka
Merdeka. Maknanya dekat dengan kedaulatan. Di mana turunan dari kemerdekaan suatu negara adalah kedaulatan negara tersebut. Setelah negara tersebut tidak lagi terikat kepada negara penjajahnya, ia memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengatur keadaan dalam negerinya sendiri. Begitu pula dengan manusia. Seorang manusia merdeka pasti memiliki kedaulatannya sendiri. Ketika manusia itu bukan 'milik' dari manusia lain, maka ia berdaulat atas dirinya sendiri. Ia berdaulat atas tubuhnya sendiri, atas pemikirannya sendiri. Hugo Grotius, seorang jenius yang menjadi penasihat Raja Perancis saat umurnya masih sangat muda dan juga merupakan bapak hukum internasional, menyatakan bahwa manusia itu independen. Terlebih lagi, ia menyatakan bahwa manusia adalah independen di hadapan tuhan. Ia menyatakan hal ini bukanlah karena ia seorang atheis atau agnostik, bukan. Ia adalah seorang Kristen yang taat. Namun ia berpendapat bahwa kedudukan manusia di hadapan tuhan adalah independen. Manusia tidak bergantung, atau dalam kata lain dependen, kepada tuhannya. Dengan akalnya, manusia bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan secara logis. Manusia bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah, berdasarkan akal mereka sendiri.
Sudah lebih dari 60 tahun negara kita terlepas dari penjajahan bangsa asing. Bebas dari kekuasaan negara asing. Dengan kata lain, sudah merdeka. Ya, negara kita sudah merdeka. Secara entitas kenegaraan memang kita sudah merdeka. Namun kemudian timbul pertanyaan, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Dalam konteks apakah kemerdekaan itu kita capai?
Pembangunan memang bisa dilihat semakin membaik. Paling tidak bagi kita yang tinggal di Jakarta. Namun apakah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sudah merata? Segala macam justfikasi pun diberikan. Mulai dari tidak meratanya pembangunan saat rezim orde baru, kekurangan sumber daya manusia dan alam, juga kurangnya akses infrastruktur pendukung seperti listrik dan jalan raya.
Bung Karno pernah berkata di Sidang BPUPKI bahwa kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas. Kemerdekaan bagi negara hanyalah sebuah alat. Justru di seberang jembatan itulah kita menyempurnakan masyarakat, kita sempurnakan kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang seharusnya diisi dengan bekal kecerdasan dari rakyatnya. Kemerdekaan yang menjamin kebebasan warganya untuk berpikir, untuk berbuat, untuk berkarya.
Di tangan rakyat Indonesia lah perubahan akan terjadi. Itulah inti demokrasi. Semua yang kita lakukan, kita lakukan untuk orang lain dan untuk diri kita sendiri. Dari kita, untuk kita, oleh kita. Dari semua, untuk semua. Di sini lah peran negara untuk menjamin dan memastikan rakyatnya memiliki kebebasan untuk berpikir, untuk berkarya sesuai dengan passion-nya masing-masing. Di situlah hakikat kemerdekaan teman-teman, ketika kita semua bebas untuk menentukan jalan pikiran sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain, tanpa hambatan dari pihak lain. Karena manusia yang merdeka adalah manusia yang lepas dari kekangan pihak lain. Manusia merdeka juga lah yang mengisi kemerdekaan negara tercinta ini. Salah satu bentuk kemerdekaan manusia adalah kebebasannya untuk berpikir.
Kebebasan berpikir inilah yang menjadikan manusia 'manusia'. Pasti kita semua telah mendengar cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada. Dengan pemikiran, manusia menjadikan dirinya berguna. Dengan berpikir, dengan akal tentunya, manusia membuktikan bahwa ia adalah makhluk paling sempurna yang telah Tuhan ciptakan. Apabila manusia kehilangan kemampuannya untuk berpikir, maka makna dari kemanusiaannya telah terkikis. Kebebasan berpikir ini tidak harus terkungkung dengan keadaan yang damai. Tidak. Tulisan-tulisan terbaik dari orang-orang terbaik dunia lahir dalam keadaan yang tidak bebas, dipenjara. Sayyid Qutb, Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, bahkan seorang Adolf Hitler melahirkan maha karya dari balik jeruji besi. Pemikiran seseorang tidak akan dapat dikekang oleh tekanan penjara sekalipun.
Jadi, pertanyaan 'sudahkan kita benar-benar merdeka?' dapat kita balik pertanyakan, 'dalam konteks kemerdekaan yang mana?'. Dalam konteks kenegaraan, ya kita sudah merdeka. Tapi pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah 'apakah SAYA sudah merdeka?'. Apabila ternyata kita sudah merasa merdeka secara pribadi, maka marilah kita isi kemerdekaan negara kita bersama-sama, di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan kesejahteraan. Kita raih kehidupan yang merdesa bersama. Merdeka !!!
Yours sincerely,
Muhammad Naufal Fileindi
http://naufalfileindi.blogspot.com