Showing posts with label random thoughts. Show all posts
Showing posts with label random thoughts. Show all posts

Monday, 9 May 2011

Terima Kasih, Pandji Pragiwaksono

Kalo liat dari judulnya, mungkin akan terkesan sangat pereus. Mungkin terkesan gue pingin jilat pantat untuk naik gaji (walaupun gue ga nolak sih kalo beneran :D ). Tapi beneran deh, gue harus menunjukkan rasa terima kasih gue ke seseorang yang udah menginspirasi gue untuk melakukan hal yang berguna. Gue mau berterima kasih, secara publik, ke Pandji Pragiwaksono.

Sebagai mahasiswa hukum (ya, gue masih mahasiswa. Jangan tanya udah semester berapa), gue terdidik untuk jadi seorang akademisi hukum. Paling ngga, kesan itu lah yang ada kalo lo belajar hukum di universitas tempat gue belajar. Sepanjang gue aktif jadi mahasiswa, pikiran gue adalah soal akademis murni. Ngga kebayang sama gue untuk melakukan sesuatu di luar hal yang berkaitan dengan akademis kalo soal hukum. Karena toh di kampus pun acara-acara yang ada semuanya dikemas secara kaku. Mau namanya workshop, mau namanya seminar, kesannya pasti kaku. Walaupun temanya bagus, tapi tetap aja penyampaiannya kaku. Gue pun terdogma untuk berpikir kalo gue ga bisa melakukan sesuatu untuk dunia hukum sebelum gue jadi sarjana hukum. Setelah gue mengenal Pandji, sebagian besar dari pikiran gue berubah.

Kalo lo udah ikutin Twitter-nya Pandji dari lama, dia selalu ngomong ada dua jenis anak muda: 1. Yang selalu menuntut perubahan. 2. Yang mencipatkan perubahan. Dengan didikan yang gue terima, gue menjadi mahasiswa yang bisanya cuma ngedumel, cuma bisa menuntut perubahan. Kalo pun menciptakan perubahan, paling yang kecil-kecil aja. Sekian lama bergaul dengan makhluk over-weight satu itu, gue terpikir untuk menciptakan sebuah perubahan yang lumayan signifikan. Gue pengen mengenalkan hukum ke orang-orang awam hukum, minimal yang mau belajar hukum itu apa.

Perjuangan gue dimulai dari Twitter. Dengan hashtag #Legal101 gue mulai ngejelasin ilmu hukum dasar. Banyak pro kontra di sini. Temen-temen gue yang dari fakultas hukum protes, gue dibilang sotoy. Mereka udah mumet sama pelajaran di dalem kelas, trus gue masih juga bahas itu di Twitter. Hasilnya, beberapa temen gue unfollow gue di Twitter. Di satu sisi gue ngerasa kesel, tapi setelah itu gue justru mikir gue harus punya wadah tersendiri kalo mau ngomongin hukum. Biarlah akun @NaufalFileindi jadi tempat gue menggalau ria tanpa dinodai omongan serius soal hukum. Jadi lah akun @Legal1O1 di Twitter.

Harus gue akuin, awal-awalnya gue masih bisa handle akun itu. Karena toh gue udah diajarin hampir semua cabang ilmu hukum di bangku kuliah. Tapi kemudia gue mulai keteteran karena followers @Legal1O1 makin banyak, tuntutan untuk nyeritain cabang ilmu hukum secara mendalam juga makin banyak. Akhirnya gue ngajak temen-temen gue di kampus untuk bantu gue. Ada mbak @kikikuik, @radianadi, @marrylane, @hbonan, dan @ranggalanang. Akhirnya, cuma sebagian dari kita aja yang masih aktif posting di akun @Legal1O1.

Gue ga merasa akun di Twitter cukup untuk nyebarin ilmu soal hukum. Gue pun berinisiatif untuk bikin blog khusus yang ngebahas soal hukum. Singkat kata, blog lexomnibus.wordpress.com gue bikin untuk mengakomodir pemikiran gue dan temen-temen lainnya untuk berbagi ilmu dan pengalaman di bidang hukum. Alhamdulillah, respon dari orang-orang lumayan.

Selain Twitter dan blog, gue udah mikirin cara lain untuk nyebarin ilmu gue. Karena ini passion gue, nyebarin ilmu yang gue punya ke orang lain. Syukur-syukur bisa berguna untuk orang lain.

Kalo ga ketemu Pandji, mungkin gue ga akan kepikiran untuk ngelakuin hal-hal yang udah gue sebut di atas. Pandji udah menggerakkan gue untuk ga cuma nuntut dan nunggu perubahan, tapi lebih baik menciptakan perubahan itu sendiri. Gue pun tertantang untuk melakukan sesuatu untuk dunia hukum sebelum gue menjadi sarjana hukum.

Sekian lama gue mikirin passion gue apa. Akhirnya gue bisa mendefinisikan passion gue sendiri. Sekarang, gue suka menyebut diri gue sebagai pembawa pesan, a messenger. Lebih khususnya, pembawa pesan untuk hukum. Dan untuk itu, cuma ada satu orang yang bisa gue kasih rasa terima kasih gue, Pandji Pragiwaksono.

Wednesday, 13 April 2011

About My Passion

I'm writing this post around half past one in the evening. I don't even know why I wrote this post. But maybe it has something to do with reading @pandji's and @radityadika's blog. I was supposed to be studying for this morning's exam. Yes, supposed to. Even though I had the urge to study, but still, Castle is a far more interesting distraction.

Speaking of the exam, I am fully aware that I'm a senior. Well, the senior's senior actually. I've been lacking on my graduation and, sadfully but true, is a year short on graduation. But what the hey, I don't take it as a serious matter to over ponder. The reason I even took another class is about the class itself. It's about intellectual property rights. A law regime that is very unorthodox for Indonesia's culture. But we'll skip the explanation for further information. Since I joined Provocative Proactive, I've been introduced to an abundant amount of creative people. Those guys introduced me to a completely different world that I've been living in. A world that I've been living in is an uptight-pressured world that pushes you to have a steady job, get married, have children, and live happily ever after. Not that these people aren't living the life of their dreams, but their lives are more...... how can put it...... colorful. They're living by their passion. And it's making them a happier person.

After struggling to find my passion these past couple of years, I'm nearing to find it. I know that I am into law, but I don't think that I will be lawyering for the rest of my life. I actually want a 'life' :p Some of my fellow law students said that I'd be a terrific lawyer. I would not contest that statement, but might as well do. If by lawyer they mean a zombie-like person who sleeps less that 30 hours per week, then I don't want to have that life. But then again, bang @ajisuleiman mentioned something in his tweet. He said, (more or less) if you are doing something that you love, then sleep can wait. For me, it's reading. Reading loads of stuff that I don't have any idea about before. After that, it's writing. I enjoy the process of writing, but I enjoy even more the editing part. Maybe it has something to do with my minor OCD hehehe. If I love reading and writing so much, then why isn't my thesis finished yet? Well, I can only blame myself for that. I've been reading pretty lot about the topic, I've come to an answer to my thesis. Maybe that's the reason I am not fond to finish my thesis. Find another subject? Dude, this is already killing me, you tellin' me I should start from the beginning again?!?!

There's another activity that I enjoy doing. Sharing my knowledge to others. Maybe that is the reason why I created the @Legal1O1 account in twitter and creating the lexomnibus blog. This is my way to make the Indonesian people more aware of the law, and to share my thoughts to others. I also have two other projects, but I'd prefer to talk about that some other time :)

I am still unable to pinpoint what my passion is exactly. Maybe I'd have to have a discussion with Rene Soehardono first hehehe. I think I have to answer @mrshananto's famous line first: "tujuan lo apa?" :p

Monday, 7 September 2009

Prioritas

semakin lo besar, semakin banyak pikiran dan tugas yang harus lo selesaikan.

ga jarang, pikiran yang berasal dari kerjaan dan tugas-tugas lo nuntut lo untuk buat skala prioritas. kalo masalah-masalah 'kecil' macam kerjaan sih bisa lah ya kita bikin skala prioritas.

dan gw pun yakin lo semua udah bisa, bahkan lebih jago dari gw, dalam ngebuat skala prioritas.

nah yang mau gw omongin di sini (atau lebih jelasnya curhatan) adalah soal prioritas dalam hidup.

secara luas.

walaupun mungkin ada yang ga sependapat sama pemikiran gw, tapi those who mind don't matter & those who matter don't mind right?

so here goes.



prioritas pertama jelas Tuhan. Tuhan loh ya, bukan agama.

dalam organisasi gw, maupun dalam sila pertama Pancasila, konsep yang dikedepankan adalah Ketuhanan. bukan keagamaan.

gw pun berprinsip bahwa keimanan seseorang ga bisa diukur dari agama apa yang dia anut, tapi dari bagaimana dia menjalanka agama yang dia anut. sejauh apa dia mengimani agamanya sendiri. atau lebih jauh lagi, sejauh apa dia mengimani Tuhannya.

dalam ngejalanin hidup, gw bener bener mencoba untuk mengimani keimanan gw.

jangan terjebak sama ritual ritual yang mengkungkung keimanan kita.

tapi yasudah lah, bukan saatnya ngebahas soal keimanan.



prioritas kedua, keluarga.

jelas lah. terutama sama orangtua. karena dari keluarga lah gw lahir, dan untuk keluarga juga gw berkarya.



prioritas ketiga, (sekarang) kuliah. (nanti) kerjaan.

bukan karena dari kerjaan gw dapet duit untuk ngebiayaain hidup gw. bukan, lebih dari itu.

karena (saat ini) kuliah dan (nanti) pekerjaan udah jadi kewajiban gw.

laki-laki harus bertanggungjawab sama obligasi yang dia punya.

kalo ga mau jalanin? jadi banci aja.



prioritas keempat, temen-temen gw.

mungkin sekalian nyambung ke prioritas kelima gw: pacar.

mengapa demikian?



ya sebenernya kalo dipikir secara logis emang temen ada di atas pacar.

apalagi ada adagium 'temen susah didapet, pacar masih bisa dicari lagi'.

tapi lo pernah mikir gini ga sih. temen lo bisa jadi pacar, dan pacar lo kalo udah putus BISA AJA (walaupun kecil kemungkinan) jadi temen.

emang pacar pun bisa jadi temen lo. tapi kalo buat gw, pacar ya pacar, teme ya temen. ga bisa disamain.

kita pun bisa lebih terbuka sama temen kan daripada sama pacar?



jadi ya, kurang lebih gitu lah.

gw kurang bisa mengelaborasi lebih lanjut karena sebenernya lagi ga mood nulis.

iseng aja.



and yes, these are the thoughts of the king.

but no, this is not how the king really writes.

so be sure to stay tune folks.

there'll be better writings in the future.